NILAI-NILAI DALAM LEGENDA BOKAY PADA MASYARAKAT DESA NUSAKDALE KECAMATA PANTAI BARU KABUPATEN ROTE NDAO
Kata Kunci:
Nilai, Legenda, BokayAbstrak
Skripsi berjudul, “Nilai-Nilai dalam Legenda Bokay Pada Masyarkat Desa Nusakdale Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao”, oleh Jilta Mirsanti Dano, NIM. 2288201033, yang dibimbing oleh Ona Diana Bani, S.Pd., M.Hum., selaku pembimbing I dan Sanhedri Boimau, S.Pd., M.Hum., selaku pembimbing II. Masalah dalam penelitian ini adalah Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam legenda Bokay pada masyarakat Desa Nusakdale Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam legenda Bokay pada Masyarakat Desa Nusakdale Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk sebagai bahan masukan bagi pemerintah agar tetap mengembangkan dan melestarikan budaya lokal. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori linguistik kebudayaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai yang terkandung dalam legenda Bokay pada Masyarakat Desa Nusakdale Kecamatan Pantai baru Kabupaten Rote Ndao adalah (1) Nilai Sosial, ditunjukkan melalui kata “na’no” yang berarti bersahabat yang artinya ada persahabatan antara makhluk di laut dan makhluk di darat. Dan juga bisa bisa tnjukkan melalui kalimat “pa;a lamema sasonga do ne tasi su’un” yang berarti mengikat daun lontar di pinggir laut ini menunjukkan adannya kerja sama antara masyarakat dengan raja musuhu untuk mengikat daun lontar di pinggir laut. (2) Nilai Budaya ditunjukkan melalui kalimat “ laketu beli ka fe kapa-kapa mesan” yang memiliki arti menyepakati belis dengan memberikan kerbau-kerbau. Ini menunjukkan nilai budaya yang terus dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Nusakdale Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao dalam tradisi perkawinan. (3) Nilai Moral, ditunjukkan melalui kalimat “kapalah absa-basa sea leo de fali le oe dale” yang berarti ketika penjaga kandang melempar telur ke kerbau bertanduk panjang maka kerbau-kerbau itu lari kembali ke laut. Ini menunjukkan adanya ketidakjujuran raja laut yang menipu raja darat sehingga kerbau-kerbau itu kembali ke laut. Dan ditunjukkan melalui nafunin” yang berarti menyembunyikan. Hal ini menunjukkan perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh gadis yang menyembunyikan kulit atau pakaian lelaki itu. (4) Nilai Religius, ditunjukkan melalui kalimat “bula ka moli beu” yang artinya ketika bulan purnama. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kekuatan alam dan makhluk supranatural. Dan ditunjukkan melalui kalimat “pa’a la mema sasonga do ne tasi su’un”. Yang artinya mengikat daun lontar di setiap pinggir laut. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kekuatan gaib spiritual dan alam. (5) Nilai Pendidikan, ditunjukkan melalui kalimat “hatoli mananea oka ka tapa manutolo le kapa sasula manalu”. Yang artinya penjaga kandang melempar telur ke kerbau tanduk panjang sehingga kerbau-kerbau lari kembali ke laut. Hal ini menunjukkan penjaga kandang gegabah dalam mengambil keputusan.
Abstrac : Thesis entitled, “Values in the Bokay Legend in the Nusakdale Village Community, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency”, by Jilta Mirsanti Dano, NIM. 2288201033, supervised by Ona Diana Bani, S.Pd., M.Hum., as the first supervisor and Sanhedri Boimau, S.Pd., M.Hum., as the second supervisor. The problem in this study is What are the values contained in the Bokay legend in the Nusakdale Village Community, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency? The purpose of this study is to describe the values contained in the Bokay legend in the Nusakdale Village Community, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency. The expected benefit of this study is to be an input for the government to continue to develop and preserve local culture. The theory used in this study is the theory of cultural linguistics. The method used in this study is descriptive qualitative. The results of the study show that the values contained in the Bokay legend in the Nusakdale Village Community, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency are (1) Social Values, shown through the word “na’no” which means friendly, meaning there is friendship between creatures in the sea and creatures on land. And it can also be shown through the sentence “pa;a lamema sasonga do ne tasi su’un” which means tying palm leaves on the edge of the sea, this shows the existence of cooperation between the community and the enemy king to tie palm leaves on the edge of the sea. (2) Cultural Values are shown through the sentence “laketu beli ka fe kapa-kapa mesan” which means agreeing to buy by giving buffaloes. This shows the cultural values that continue to be upheld by the Nusakdale Village Community, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency in the marriage tradition. (3) Moral values, shown through the sentence “kapalah absa-basa sea leo de fali le oe dale” which means when the keeper of the cage threw eggs to the long-horned buffaloes, the buffaloes ran back to the sea. This shows the dishonesty of the sea king who deceived the land king so that the buffaloes returned to the sea. And shown through “nafunin” which means to hide. This indicates the immoral act committed by the girl who hid the man’s skin or clothing. (4) Religious Values, shown through the sentence “bula ka moli beu” which means when the moon is full. This indicates a belief in natural forces and supernatural beings. And shown through the sentence “pa’a la mema sasonga do ne tasi su’un” which means tying palm leaves at every seashore. This indicates a belief in spiritual and natural supernatural powers. (5) Educational Values, shown through the sentence “hatoli mananea oka ka tapa manutolo le kapa sasula manalu” which means the keeper of the pen throws eggs to the long-horned buffalo so that the buffaloes run back to the sea. This shows the keeper of the pen is rash in making decisions.




