DARI KEBUN KE TENGKULAK: EKSPLOITASI EKONOMI PETANI KARET RAKYAT DI KECAMATAN MUARA TABIR, KABUPATEN TEBO, 1980-2010

Penulis

  • Reno Universitas Jambi
  • Andi Zahriyyah Yasmin Universitas Jambi
  • Nayla Ayu Marta Universitas Jambi
  • Fatonah Universitas Jambi
  • Padhil Hudaya Universitas Jambi

Kata Kunci:

Karet Rakyat, Muara Tabir, Tengkulak, Eksploitasi Ekonomi, Perdagangan Karet

Abstrak

Perkebunan karet milik rakyat (Hevea brasiliensis) telah menjadi fondasi ekonomi masyarakat di Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi sejak era kolonial Belanda. Penelitian ini menelusuri pertumbuhan perkebunan karet rakyat di wilayah tersebut selama tahun 1980 hingga 2010, serta menganalisis struktur perdagangan karet yang ada dan cara-cara eksploitasi ekonomi yang dialami oleh para petani. Pendekatan yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang dibagi dalam empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dengan pendekatan ekonomi-historis yang mengandalkan sumber-sumber sekunder. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa lonjakan harga karet mencapai 61,15% pada tahun 1987 membawa perubahan sosial-economi dari model subsisten ke model pasar. Namun, dalam struktur perdagangan yang terbentuk, peran tengkulak menjadi sangat dominan, menguasai distribusi dan penetapan harga melalui kontrol atas transportasi, modal, dan informasi pasar. Eksploitasi dalam ekonomi tercermin dari adanya ketidakadilan harga yang terstruktur, praktik monopoli, dan sistem utang yang menciptakan ketergantungan jangka panjang. Hal ini berdampak pada penurunan produktivitas kebun, minimnya akses pendidikan, dan peralihan sebagian masyarakat ke komoditas kelapa sawit di akhir tahun 2000-an.

Abstract Civil-owned rubber plantations (Hevea brasiliensis) have been the economic foundation of the community in Muara Tabir District, Tebo Regency, Jambi Province since the Dutch colonial era. This study traces the growth of smallholder rubber plantations in the region from 1980 to 2010, and analyzes the existing rubber trade structure and the methods of economic exploitation experienced by farmers. The approach used is a historical research method divided into four stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, with an economic-historical approach relying on secondary sources. The research findings indicate that the 61.15% surge in rubber prices in 1987 brought about a socio-economic shift from a subsistence model to a market model. However, within the resulting trade structure, middlemen played a dominant role, controlling distribution and pricing through control over transportation, capital, and market information. This economic exploitation is reflected in structural price inequities, monopolistic practices, and a debt system that creates long-term dependency. This has resulted in decreased plantation productivity, limited access to education, and a shift in some communities to palm oil production in the late 2000s.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31