ANALISIS PERMINTAAN, PENAWARAN, DAN HARGA KESEIMBANGAN BERAS DI INDONESIA TAHUN 2020–2024
Kata Kunci:
Permintaan Beras, Penawaran Beras, Harga Keseimbangan, Upah Minimum Provinsi, Ketahanan Pangan, El Niño, Ekonomi MikroAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika permintaan, penawaran, dan harga keseimbangan beras di Indonesia selama periode 2020–2024 dalam kerangka teori ekonomi mikro. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi harga beras eceran rata-rata nasional, Upah Minimum Provinsi (UMP), konsumsi beras nasional, dan produksi beras nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga beras mengalami kenaikan kumulatif sebesar 42,86 persen, dari Rp10.500 per kilogram pada tahun 2020 menjadi Rp15.000 per kilogram pada tahun 2024. Kenaikan ini dipicu oleh pergeseran kurva permintaan ke kanan akibat pertumbuhan penduduk dan kenaikan UMP, serta pergeseran kurva penawaran ke kiri akibat fenomena El Niño tahun 2023, lonjakan biaya produksi pertanian, dan alih fungsi lahan sawah. Kondisi pasar mengalami transisi struktural dari surplus (2020–2022) menjadi defisit (2024), dengan selisih antara produksi dan konsumsi yang semakin menyempit. Meskipun UMP meningkat secara nominal sebesar 16,50 persen, laju kenaikan tersebut jauh tertinggal dari kenaikan harga beras, sehingga terjadi erosi daya beli riil masyarakat pekerja. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas produksi padi, diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal, penguatan sistem cadangan dan distribusi pangan, serta perluasan jaring pengaman sosial pangan bagi kelompok masyarakat rentan.
This study aims to analyze the dynamics of demand, supply, and equilibrium price of rice in Indonesia during the period 2020–2024 within the framework of microeconomic theory. A descriptive-quantitative method was employed using secondary data obtained from Statistics Indonesia (BPS), the Ministry of Manpower, and the Ministry of Agriculture of the Republic of Indonesia. The variables analyzed include the national average retail price of rice, the Provincial Minimum Wage (UMP), national rice consumption, and national rice production. The findings reveal that rice prices rose cumulatively by 42.86 percent, from IDR 10,500 per kilogram in 2020 to IDR 15,000 per kilogram in 2024. This increase was driven by a rightward shift of the demand curve due to population growth and rising UMP, alongside a leftward shift of the supply curve attributable to the 2023 El Niño phenomenon, surging agricultural production costs, and the conversion of productive paddy fields. The market underwent a structural transition from surplus conditions (2020–2022) to a deficit (2024), with the gap between production and consumption narrowing significantly. Although UMP increased nominally by 16.50 percent, this rate lagged far behind rice price inflation, resulting in a real erosion of workers' purchasing power. The study recommends strengthening paddy production capacity, promoting local food diversification, improving the national food reserve and distribution system, and expanding social safety net programs for vulnerable households.




