MAKNA PELATIHAN KETERAMPILAN BAGI WANITA RAWAN SOSIAL EKONOMI DI UPTD PPS GRIYA WANITA MANDIRI

Penulis

  • Munina Nurhaliza Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
  • Musahwi Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Kata Kunci:

Makna Pelatihan Keterampilan, Wanita Rawan Sosial Ekonomi, omenologi Schutz, Pemberdayaan Perempuan, Kepercayaan Diri

Abstrak

Penelitian ini mengkaji makna pelatihan keterampilan untuk Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) yang terlibat dalam program di UPTD PPS Griya Wanita Mandiri, Jawa Barat. Pelatihan keterampilan dipahami tidak hanya sebagai upaya peningkatan kapasitas ekonomi, tetapi juga sebagai proses sosial yang berpotensi membentuk kembali cara individu memaknai dirinya, relasi sosialnya, serta peluang hidup yang dimilikinya di masa depan. Studi mengenai inisiatif pemberdayaan perempuan sebelumnya umumnya lebih banyak membahas aspek efektivitas dari sudut pandang organisasi, sementara aspek subjektif yakni makna yang diberikan peserta terhadap pengalaman pelatihan masih belum banyak diselidiki. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif fenomenologi sesuai dengan pemikiran Alfred Schutz, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap empat penerima manfaat WRSE (W-1 sampai W-4) dan satu pekerja sosial (P-1), serta metode observasi partisipatif. Analisis data mengikuti prosedur fenomenologis yang dikembangkan oleh Moustakas (1994), yang meliputi horizonalisasi, pengelompokan tema, dan deskripsi esensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan dimaknai peserta melalui tiga tema utama. Pertama, pelatihan dipahami sebagai sarana pemulihan rasa percaya diri dan penguatan kemandirian, di mana peserta mulai melihat dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan, nilai, dan kesempatan untuk berkembang. Kedua, pelatihan menjadi ruang terbentuknya jaringan sosial baru yang memberikan dukungan emosional, pertukaran pengalaman, serta membuka peluang akses terhadap informasi dan kesempatan ekonomi. Ketiga, pelatihan dimaknai sebagai titik awal perubahan cara pandang terhadap kehidupan dan masa depan, yang ditandai dengan munculnya harapan baru, motivasi untuk mandiri, serta keinginan membangun kehidupan yang lebih baik.  Temuan penelitian menunjukkan tiga tema makna utama: (1) pelatihan sebagai sarana pemulihan rasa percaya diri dan kemandirian; (2) pelatihan sebagai akses ke jaringan sosial baru yang bermanfaat; (3) pelatihan sebagai langkah awal untuk merombak cara pandang hidup dan harapan masa depan. Hasil penelitian ini menekankan bahwa program pelatihan keterampilan tidak hanya sekadar memberikan kemampuan teknis, tetapi juga merupakan pengalaman yang mengubah cara WRSE melihat diri mereka dan lingkungan sekitar.

This study examines the meaning of skills training for Socioeconomically Vulnerable Women (WRSE) participating in a program at the Griya Wanita Mandiri Women's Empowerment Unit (UPTD PPS) in West Java. Skills training is understood not only as an effort to increase economic capacity but also as a social process that has the potential to reshape how individuals perceive themselves, their social relationships, and their future life opportunities. Previous studies on women's empowerment initiatives have generally focused more on the effectiveness aspect from an organizational perspective, while the subjective aspect, namely the meanings participants attach to the training experience, remains largely unexplored. This study employs a qualitative phenomenological approach, in line with the thinking of Alfred Schutz. Data were collected through in-depth interviews with four WRSE beneficiaries (W-1 to W-4) and one social worker (P-1), along with participant observation. Data analysis followed the phenomenological procedures developed by Moustakas (1994), which include horizontalization, theme clustering, and essential description. The results indicate that participants interpreted skills training through three main themes. First, training is understood as a means of restoring self-confidence and strengthening independence, where participants begin to see themselves as individuals with abilities, values, and opportunities for development. Second, training becomes a space for the formation of new social networks that provide emotional support, exchange of experiences, and open up access to information and economic opportunities. Third, training is interpreted as a starting point for changing perspectives on life and the future, marked by the emergence of new hopes, motivation for independence, and a desire to build a better life. The research findings reveal three main themes of meaning: (1) training as a means of restoring self-confidence and independence; (2) training as access to new, beneficial social networks; (3) training as an initial step in overhauling perspectives on life and future hopes. The results of this study emphasize that skills training programs do not merely provide technical skills but also constitute experiences that transform how WRSE view themselves and their surroundings.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31