MEMERANGI SAMPAH DI KABUPATEN SIKKA DALAM TERANG ENSIKLIK LAUDATO SI

Penulis

  • Gabriel James Seso IFTK Ledalero
  • Aloysius Wangku IFTK Ledalero
  • Florante Marjo Metkono IFTK Ledalero

Kata Kunci:

Alam, Sampah Dan Ensiklik Laudato Si

Abstrak

Bumi adalah tempat yang sangat indah dan menarik. Bumi merupakan tempat atau rumah bagi manusia yang diberikan oleh sang pencipta. Bumi diberikan kepada manusia bukan saja untuk dijadikan sebagi sumber pemenuhan kebutuhan manusia, tapi manusia juga dituntut untuk boleh menjaga dan merawat bumi agar tetap seimbang. Namun harapan itu hanyalah sebuah utopia. Hal ini dikarenakan sikap manusia yang hanya menjadikan alam sebagi sumber pemenuhan kebutuhan hidup, tapi tidak pernah alam ini diperhatikan dan dijaga. Bumi sekarang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, banyak hutan yang ditebang secara sembarangan dan yang paling rumit adalah sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Sampah menjadi masalah yang sangat penting yang mesti segera diatasi. Hampir semua daerah di Indonesia tidak terlepas dari masalah sampah, terlebih khusus di kabupaten Sikka. Jumlah masyarakat atau penduduk kabupaten Sikka tercatat 340,92 ribu jiwa data pertahun 2024 (www. Katadata. Co.id. diakses pada 7 November 2024). Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak ini tidaklah heran bahwa Sikka menjadi kabupaten yang cukup kotor yang disebabkan oleh pembuangan sampah secara sembarangan. Dengan keadaan ini dibutuhkan kerja sama dari berbagai lembaga atau pihak untuk mengatasi maslah sampah di Sikka, salah satunya yaitu gareja. Gereja adalah lembaga agama yang mesti berperan aktif dalam menghadapi masalah sampah yang ada di Sikka ini. Hal ini kiranya sudah ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si agar setiap orang hendaknya menjaga alam sebagi rumah kita bersama. Dengan adanya ensiklik ini kiranya masalah sampah di kabupaten Sikka dapat segera teratasi.

Earth is a Very beautiful and interesting place. Earth is a place or home for humans given by the creator. Earth is given to humans not only to be used as a source of fulfilment of humans needs, but humans are also required to be able to maintain and care for the earth so that it remains balanced. However, that hope is only a utopia. This is because of the human attitude that only makes nature a source of fulfilment of life’s needs, but nature is never noticed and maintained. The earth is not doing well now. How could it not be, many forests are cut down carelessly and the most complicated thing is that garbage is thrown away in the wrong place. Garbage is a very important problem that must be resolved immediately. Almost all areas in Indonesia are inseparable from the problem of garbage, especially in Sikka district. The number of people or residents of Sikka district was recorded at 340,92 thousand people as of 2024 (www. Katadata. Co.id. accessed on November 7, 2024). With this very large population, it is not surprising that Sikka is a fairly dirty district caused by careless garbage disposal. With this situation, cooperation is needed from farious institutions or parties to overcome the garbage problem in Sikka, one of which is the church. The church is a religious institution that must play an active role in dealing with the garbage problem in Sikka. That has been emphasized by pope Francis in the encyclical Laudato Si so that everyone should protect nature as our common home. With this encyclical, it is hoped that the waste problem in Sikka district can be resolved soon.

Unduhan

Diterbitkan

2025-05-30